Arsitek yang Tidak Sekedar Berarsitektur, Jejak Romo Mangun

10 01 2009

 Pada tahun 1983, sebuah surat maklumat dilayangkan kepada pemerintah kota Yogyakarta lewat sebuah surat kabar. Isinya meminta pertimbangan kembali rencana penataan bantaran Kali Code yang akan mengubah pemukiman menjadi hutan kota. Si penggubah surat pulalah yang menyerukan tindakan advokasi demi mencegah dihapusnya pemukiman Kali Code.

 Hasilnya, perkampungan Code kini menjadi pemukiman kecil yang asri hingga mendapat penghargaan The Ruth and Ralp Erukine Fellowship (1995) dan menjadi contoh konsep perbaikan kampung. Ialah Romo Mangun, arsitek yang berperan penting dalam evolusi sebuah perkampungan yang semula kumuh ini.

image001

Arsitek bernama lengkap Yusuf Bilyarta Mangunwijaya ini lahir di Ambarawa, Kabupaten Semarang 6 Mei 1929. Selain sebagai arsitek ia pun dikenal sebagai budayawan, rohaniwan sekaligus aktivis pembela kaum lemah. Pribadi yang humanis ini berpengaruh ke dalam karya arsitekturnya yang hampir keseluruhan adalah bangunan yang berfungsi untuk kepentingan masyarakat. Selama masa kontruksi ia pun seringkali menggunakan teknik tradisional dan bahan-bahan lokal demi menjaring lebih banyak tenaga kerja informal di sekitar lokasi pengerjaan desain. Tak ayal dari beberapa karya arsitekturnya lebih banyak menonjolkan kekuatan sosial budaya dan lokalitas sebagai akar proses berdesain.

Romo Mangun mengenyam pendidikan arsitektur di Teknik Arsitektur, ITB, Bandung pada tahun 1959. Kemudian melanjutkan ke Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, di Jerman pada tahun 1960 hingga 1966. Ia sempat menjadi dosen luar biasa Jurusan Arsitektur Universitas Gadjah Mada, dan kemudian dikenal sebagai arsitek bebas Keuskupan Agung Semarang.

Romo Mangun adalah seorang arsitek yang kaya dalam berkarya. Karya arsitektur yang pernah dirancang antara lain……..(Dapatkan Informasi lengkapnya dengan mendownload Dreamland Magazine Edisi II secara gratis)


Actions

Information

Leave a comment